h1

Capres pilihan Luna Maya

1 Maret 2009

Berebut Capres Pilihan Rakyat

Tak hanya masyarakat biasa, para artis pun ramai-ramai menentukan pilihan capres mereka pada pilpres mendatang.

Tak hanya masyarakat biasa, para artis pun ramai-ramai menentukan pilihan capres mereka pada pilpres mendatang.

Pemilihan Presiden 2009 mendatang terus memanas (emang air di masak), tak hanya para elit politik para orang penuh iseng pun mencoba memamerkan wajah jeleknya sebagai lahan promosi mereka dengan berharap ada yang memilih dan berbelas kasihan (he…he…he….). mungkin Anda berminat jadi Capres, silahkan daftar melalui link komentar blog ini.

h1

PELECEHAN WANITA ATAS NAMA ‘CANTIK’

1 Maret 2009
Seringkali tidak kita sadari, kontes kecantikan justru secara tidak langsung melecehkan kaum wanita dari satu sisi.

Seringkali tidak kita sadari, kontes kecantikan justru secara tidak langsung melecehkan kaum wanita dari satu sisi.

MISS UNIVERSE, selalu menominasikan wanita cantik dalam arti fisik dalam setiap eventnya. Itulah ajang taraf internasional yang telah menjadi ikon kecantikan para kaum hawa. Sungguh hampir sebagian besar kaum hawa ingin mengikuti kontes kecantkan itu, tak terkecuali kaum hawa di pedesaan. Namun disisi lain Citra kecantikan yang terbentuk dari penyelenggaraan kontes-kontes kecantikan membuat kaum perempuan menderita (meski sering tanpa sadar) akibat terobsesi untuk mendapatkan penampilan yang cantik. Penyelenggaraan kontes kecantikan, baik dalam skala global maupun lokal, merupakan salah satu bentuk penciptaan standar kecantikan. Memang, salah satu dampak positif penyelenggaraan kontes kecantikan bisa menjadi sarana promosi bagi negara yang melakukan kegiatan itu. Demikian juga di Indonesia. Tetapi, yang harus diwaspadai adalah dampak negatif dari pelaksanaan sejenis ini. Memang tidak secara langsung, tetapi dirasakan para perempuan. Yang paling dirasakan adalah pemaknaan yang dilakukan kaum perempuan mengenai konsep cantik itu sendiri. Ditambah lagi dengan hadirnya tayangan kontes-kontes kecantikan sebagai ajang “penghargaan” tahunan yang disiarkan ke seluruh penjuru dunia, tak dapat dihindarkan lagi memunculkan dampak tertentu. Salah satu di antaranya adalah pembentukan makna kecantikan yang didasarkan pada karakter fisik para kontestan. Kontes-kontes kecantikan juga bersifat kontraproduktif terhadap usaha pemberdayaan perempuan. Mengapa? Pada dasarnya kontes kecantikan adalah ikon pelecehan perempuan. Sejak seleksi hingga nominasi finalis, parameter yang digunakan adalah dominan kecantikan badani (tinggi, langsing, berkulit halus, dan semua kriteria yang ditentukan secara patriakis). Jika disertai dengan pengukuran tingkat kecerdasan dan pengetahuan, itu hanyalah komplemen dan lips services yang didesain untuk meraih dukungan publik. Di sisi lain, kontestan juga harus memublikasikan tubuh “wilayah privasi” kepada publik. Bahkan, faktor inilah yang menjadi alasan kemenangan. Ini sangat kontradiktif dengan konsep pemuliaan perempuan. Semakin banyak menggunakan kecantikan fisik sebagai kekuatan, dia semakin terjebak dalam kesadaran palsu yang telah dikonstruksikan oleh industri kecantikan. Dia juga semakin jauh akan berperilaku menggairahkan demi kepuasan lelaki. Dampaknya, para perempuan jadi memandang rendah dirinya sendiri hanya karena kekurangan fisik yang dimiliki. Dia tidak bisa memandang dirinya dalam cara pandang yang positif. Banyaknya perempuan yang belum menyadari posisi mereka sebagai korban dari struktur adalah suatu hal yang patut mendapat perhatian khusus. Kurangnya pendidikan dan informasi menjadi penyebab banyak perempuan belum mencapai kesadaran sejati. Karena itu, pendidikan gender menjadi langkah awal untuk membebaskan kaum perempuan untuk dapat lebih kritis dalam menyikapi berbagai ketidakadilan maupun eksploitasi perempuan. Kecantikan tidak bisa diukur dengan standardisasi golongan tertentu yang menimbulkan eksploitasi bagi perempuan. Kecantikan itu bukan sesuatu yang eksklusif karena tidak bisa diukur hanya dengan sekali melihat. Juga harus diperhatikan perpaduan prinsip, kepribadian, dan perilaku seseorang untuk bisa dinilai cantik. Cantik merupakan multiple beauty. Tidak ada parameter khusus untuk menilai cantik dan tidaknya perempuan. Apakah kecantikan identik dengan body image? Itulah budaya pandangan sempit yang harus dilawan. Seharusnya kaum perempuan sadar akan pengetahuan yang didapat sebagai modal membentuk kepercayaan diri untuk maju. Mereka harus bisa menjadi diri mereka sendiri dan tidak terpengaruh akan model yang diekspos di media tertentu. Kontes kecantikan merupakan bentuk eksploitasi perempuan, dimana para peserta harus memeragakan konstruksi sosial kaum kapitalis yang sebenarnya merendahkan diri sendiri. Mereka harus mematuhi peraturan yang ditentukan yang tidak jelas relevansinya. Inilah yang disebut ‘pseudo consciousnes’, yakni kesadaran semu. Faktor ini menjadikan perempuan sulit menemukan jati diri. Hal itu disebabkan pembentukan self esteem (harga diri) yang bergantung pada feedback lingkungan sekitar yang tidak mendukung kesadaran kritis akan jati diri perempuan.

h1

‘PEJABAT PEMAKAN DARAH’

1 Maret 2009
Masyarakat diminta hati-hati terhadap Pejabat yang mempunyai kriteria seperti ini.

Masyarakat diminta hati-hati terhadap Pejabat yang mempunyai kriteria seperti ini.

MUSIM caleg (calon legislatif) telah tiba. Hari-hari dan minggu-minggu dalam bulan Agustus-September ini, akan diramaikan oleh bursa para calon politisi yang mengincar kursi legislatif dalam Pemilu 2009 yang sudah mulai berjalan tahapannya. Baik kursi DPR (pusat), DPRD provinsi, maupun DPRD kota/kabupaten. Begitu juga DPD (Dewan Perwakilan Daerah) alias ‘senator’ yang telah pula ‘tebar pesona’ mencari dukungan sebanyak-banyaknya guna persyaratan pencalonan mereka. Seperti biasa, dalam irama lima tahunan, jelang pemilu seperti ini akan banyak orang bermuka manis kepada rakyat, kepada kita semua. Bagaimana tidak bermuka manis, para caleg tersebut sangat membutuhkan bahkan sangat bergantung nasibnya dari kita semua. Dan rakyat pun jadi tuan, tapi sayang, itu tak bertahan lama. Seperti biasa pula, setelah para caleg berhasil duduk di kursi parlemen, mereka banyak yang lupa pada ‘tuannya.’ Sebab, saat itu mereka telah berganti ‘tuan,’ apakah yang namanya kekuasaan, kepentingan, uang, jabatan, dan simbol-simbol lain yang memang memabukkan. Sebentar lagi para caleg dari parpol yang kini jumlahnya lebih banyak itu (34 parpol), akan resmi mendaftarkan diri ke KPU atau KPUD, untuk selajutnya mengikuti proses pemilihan umum yang, seperti biasa, bakal menguras energi dan perhatian segenap bangsa ini. Kini para caleg (atau tepatnya bacaleg) tersebut sedang ribut-ribut mencari nomor urut yang menguntungkan. Tak jarang mereka harus menyerang dan melakukan pembunuhan karakter terhadap kawan sendiri demi mendapatkan nomor jadi. Itu baru tahap penyusunan nomor urut yang sifatnya masih internal parpol. Belum kalau daftar nama-nama caleg tersebut sudah ditetapkan dan dilempar (dijual) ke publik. Maka, rebutan pengaruh pun makin keras. Aroma saling serang dan saling jegal begitu kuat. Tak jarang aib dan kelemahan-kelemahan pribadi orang diobral dan dibeber luas. Seperti biasa pula, kalau musim caleg telah tiba, bakal beredar janji-janji manis kepada rakyat atau kita semua yang terdengar begitu meninabobokan. Dan, sudah bisa ditebak, dunia pendidikan bakal jadi isu yang sangat laku karena dianggap bernilai jual tinggi. Begitulah, janji-janji tentang pendidikan gratis, berkualitas, fasilitas sangat ideal, lulusannya dijamin mendapat pekerjaan dan hidup sejahtera, para guru kesejahteraannya bakal ditingkatkan berlipat-lipat, anggaran pendidikan ditingkatkan setinggi-tingginya, akan kita dengar lagi di hari-hari, minggu-minggu, dan bulan-bulan ini. Terutama saat kampanye nanti, dimana isu pendidikan begitu laris diangkat para caleg dan parpol. Kita yang sehari-hari berkecimpung di dunia pendidikan, akan selalu kritis terhadap hal-hal tersebut. Tentunya, tanpa harus bersikap antipati. Bukankah begitu?

h1

Demokrasi

1 Maret 2009

Kedaulatan Rakyat atau Kedaulatan Penguasa??


Selalu demokrasi mengatakan ingin mengantarkan rakyat ke altar bahagia. Syahdan jalan itu pun di tawarkan terbuka, rakyat sebagai permaisuri dan negara menetapkan diri sebagai raja. Bila suatu hari nanti rakyat bunting, konon akan lahir seorang putera mahkota degan kepribadian bhineka tunggal ika dan berakhlak Pancasila.
Mula-mula demokrasi terpimpin. Soekarno sebagai negara ingin ditetapkan menjadi raja seumur hidup. Ini sangat sulit diterima oleh rakyat karena ia tak hanya mempersunting 200 juta lebih rakyat Indonesia melainkan gemar meminang gadis dari negeri sakura. Rakyat dibuat cemburu dan atas propaganda militer, ia di ceraikan.
Dengan nama orde baru, rakyat kembali ditimang-timang sebagai permaisuri demokrasi pancasila. Rakyat bagai dibuai hipnotis dan selama 32 tahun tak sadar setelah di perkosa secara masal.
Bila kekerasan menyentuh lebih dari satu orang maka keadilan hidup akan mempertemukan mereka pada suatu masa yang tak disangka-sangka. Tepatnya di tahun 1998 luka seluruh rakyat tumpah ke jalan dengan nama reformasi. Ia menggugat kekeuasaan yang telah memperdayainya dan mengutuk orde baru yang selama ini tampil sebagai tahta suci.
Tak tanggung-tanggung gugatan mereka mengakibatkan soeharto lengser. Dari peristiwa ini ada yang menyebutkan bahwa Indonesia telah lahir kembali dan kedaulatan rakyat telah tertata. Namun keberadaan demokrasi saat ini dipertanyakan kembali oleh rakyat, karena seringkali dalam tataran pelaksanaan, demokrasi malah menjauhkan pemerintah dari rakyat. Saat rakyat berteriak kelaparan, para elite sedang tertidur pulas di hotel berbintang. Ketika rakyat menangis karena harga-harga makin melambung, para wakil rakyat masih enjoy dengan studi bandingnya ke luar negeri atau rame-rame beli laptop. Ironis memang di jaman ketika demokrasi di junjung tinggi.
Demokrasi sering di artikan sebuah kedaulatan di tangan rakyat yang sepenuhnya di jalankan oleh yang diberi kewenangannya oleh undang-undang yang tak lain dalam hal ini yaitu pemerintah (dalam arti luas). Dan secara teoiritis dalam demokrasi juga menjamin salah satunya kebebasan menyatakan pendapat. Dalam tataran praktis, meski tidak selalu konsisten., beberapa negara yang menganut system demokrasi (Indonesia termasuk didalamnya) juga telah menjalankan jaminan atas kebebasan menyatakan pendapat bagi rakyatnya. Salah satu buktinya adalah dibiarkannya masyarakat oleh pemerintah untuk melakukan demonstrasi yang sudah barang karena Indonesia negara “hukum” (pake tanda petik) tentunya demonstrasi itu harus memenuhi aturan-aturan yang telah di tetapkan pemerintah. Terutama merespon atau mengkritisi kebijakan pemerintah yang dipandang tidak sesuai dengan aspirasi atau bahkan merugikan rakyat. Namun seringkali pemerintah termasuk DPR sebagai representasi kedalatan rakyat sering tidak menggubris aspirasi itu. Lalu, apalah artinya kebebasan menyatakan pendapat (yang mencerminkan kehendak rakyat) jika tidak di respon/dituruti oleh pemerintah sebagai pemegang amanah rakyat? Bukankah ini berarti bahwa silahkan saja rakyat berteriak, tetapi keputusan jalan terus, terserah penguasa, tanpa perlu lagi mendengar suara hati masyarakat?
Namun, semua itu sebetulnya bukan sesuatu hal yang aneh. Sebab, itulah fakta demokrasi sesungguhnya di hampir semua negara yang menerapkan system demokrasi, selalu ada kesenjangan antara kehendak rakyat dengan kehendak penguasa yang menjadi pemegang amanah rakyat. Dengan kata lain, secara faktual, demokrasi tidaklah mencerminkan kedaulatan rakyat. Demokrasi sering hanya berkomitmen pada ‘kedaulatan’ penguasa sendiri, atau pada kehendak segelitir orang dijajaran elite kekeuasaan, atau para kehendak para pemilik modal dengan mengatasnamakan rakyat, atau kehendak negara besar tempat para elite penguasa bersandar. Walhasil kedaulatan rakyat sebetulnya hanya ada dalam teori demokrasi, tidak dalam praktiknya. Pada akhirnya, demokrasi hanyalah sekedar ‘gincu’ idiom kedaulatan rakyat hanyalah untuk melanggengkan kekuasaan para penguasa yang bersekongkol dengan para pemilik modal. Dengan kata lain, istilah kedaulatan rakyat hanyalah cara untuk melangengan system kapitalisme.

h1

SBY ternyata perokok berat

27 Februari 2009

SBY (Si Butet Jogja, ternyata seorang perokok)

SBY (Si Butet Jogja, ternyata seorang perokok)

Presiden Republik Mimpi ini selalu mengisap rokok dalam setiap keseharianya. Meski dirinya sadar dan mengerti merokok itu sesuatu yang bisa mengganggu kesehatan, akan tetapi ia juga mengaku kebiasaan itu sulit dihilangkan.

seperti diketahui, Nikotin yang terdapat dalam tembakau selalu saja menjadi salah satu penyebab atau faktor resiko timbulnya kanker, bukan hanya kanker paru, tapi juga kanker di organ lain, termasuk leher rahim dan payudara. Kenapa begitu?

Nikotin dalam tubuh akan menurunkan daya tahan tubuh. Sedangkan kanker akan tumbuh dan berkembang dengan baik, bila daya tahan tubuh kita lemah. Jadi masuk akal, bila pada kanker apa saja, selalu ada rokok yang berperan sebagai biang kerok.

Kejadian kanker paru sudah sejak lama diketahui sangat erat kaitannya dengan merokok. Namun meski larangan merokok di tempat umum dan peringatan bahaya rokok yang selalu menyertai iklan produk rokok, tapi masih saja para perokok tidak bergeming.

Kasus terakhir, seorang laki-laki usia 47 tahun yang baru hanya 4 bulan ini merasakan sering batuk disertai rasa nyeri didada. Berat badan turun drastis, 11 kg.

Penderita sesak nafas luar biasa dengan postur tubuh yang kurus-ceking. Pasien meninggal berbarengan dengan hasil pemeriksaan patologi anatomik (PA) keluar, sehari setelah sampel cairan bilasan bronkhus diterima. Dirawat di ICU belum genap 2 hari, belum sempat diberikan khemoterapi.

Apa yang turut memperberat keadaan pasien ini adalah saat diketahui kebiasaannya menghabiskan 4 (empat) bungkus rokok setiap hari.

Sayang, bukan? Daripada uang habis dibakar untuk rokok, mungkin lebih baik dibelikan makanan bergizi: susu, daging, buah atau sayur-sayuran yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

h1

Hantu tanpa kepala, Gegerkan Purwakarta

27 Februari 2009

Allah telah kembali mengingatkan kita untuk terus bertobat melalui beberapa kejadian.

Masyarakat RT1 RW1 Kampung Cikaray Desa Malang Nenga Kecamatan Sukatani, digegerkan dengan kelahiran seekor kambing jantan tanpa badan dan kepala, Rabu (18/2) pada pukul 17.00. Namun, dengan keajaiban sang pencipta, kambing tersebut masih hidup karena memiliki denyut nadi.
Pemilik kambing Amid (40) tidak menyangka bahwa kelahiran anak pertama dari kambingnya itu akan lahir dengan kondisi seperti itu. Semalam sebelum kelahiran kambing itu, Selasa (17/2), ia bermimpi ada orang menitipkan bayi perempuan padanya.
“Saya tidak tahu arti mimpi itu. Tapi yang jelas, semua ini adalah tanda bukti kekuasaan Allah SWT. Mudah-mudahan, ini pertanda baik bagi kehidupan saya dan keluarga,” jelas Amid kepada Pasundan Ekspres, Kamis (19/2), sambil menunjukkan anak kambing tersebut.
Amid menceritakan, awalnya, induk kambing, sudah terlihat tidak berdaya selama seminggu. Dirinya tak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan kambingnya yang sedang hamil. Hingga akhirnya datang ide untuk mengeluarkan isi perut kambing dengan bantuan paraji. Hal itu ia lakukan agar induk kambing tak mati.
Dukun beranak atau yang sering disebut Paraji setempat Ma Eni (53) menuturkan proses kelahirannya. Dengan terpaksa, ia memasukkan jarinya pada anus induk kambing. Kemudian, ia menarik keluar kaki anak kambing itu. Tapi anehnya, yang ia tarik hanya kaki bagian belakangnya saja. Sedang badan dan kepalanya tidak ada.
“Semula saya sempat kaget. Sebab, saya kira kambing itu putus di perut. Tapi setelah saya tarik lagi, lahir anak kambing yang kedua dengan tubuh normal. Tapi sayangnya, anak yang ketiga sudah mati didalam perut induk kambing,” jelasnya.

Kabar terakhir, anak kambing tanpa kepala itu mati. saat ini hantunya gentayangan mencari kepalanya. setelah geger di Purwakarta, mungkinkah di Subang mendapat giliran..???

Gambar dibawah ini, tampak warga memperlihatkan seekor anak kambing yang baru dilahirkan namun tidak memiliki kepala.

domba-tanpa-kepala-and-1

h1

Indonesia ‘melarat’, Malaysia ‘konglomerat’

27 Februari 2009

“Hadapi Kenyataan!”

picku

Menghadapi kenyataan, inilah yang seharusnya selalu ada dalam pikiran setiap insan manusia warga Republik ini. Dengan kondisi carut marut seperti ini Indonesia seakan tidak pernah bangun dari tidur panjangnya. kelaparan, banjir, kriminalitas tinggi, DBD, prostitusi dan korupsi adalah hal-hal yang biasa di Negeri ini. Tetapi yang menarik untuk saya adalah sebuah kenyataan bahwa warga negeri ini semakin menunjukan siapa dirinya. KAMI adalah orang yang tidak berbudaya. Bukan sekedar sebuah retori yang menggumam di kepala tetapi sebuah pemikiran yang seakan tidak pernah berhenti bertanya, apakah ada bangsa di dunia yang setiap harinya hanya mencela dan tertawa? Apakah ada bangsa di dunia yang melecehkan pemimpinnya sendiri? Bukannya mencari solusi bersama. Bangsa ini memang sudah kelewatan !!

Sementara bangsa lain sibuk dengan perkembangan teknologi informasinya, sibuk dengan penemuan barunya, sibuk dengan meningkatkan kekuatan untuk menjadi bangsa besar dan maju, bangsa ini hanya terus tertawa dan mencela. Bagaimana mungkin seorang Tukul dapat menjadi seorang yang dihargai masyarakat padahal hanya bisa tertawa dan mencela? Sedangkan anak bangsa yang memajukan bangsa ini lewat pendidikan tidak pernah mendapat perhatian? Bangsa ini sudah kelewatan.

Bangsa ini harus berani menghadapi sebuah kenyataan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang tertinggal. Kita adalah negara peringkat 54 dari 55 negara dalam tingkat kompetitif SDM (benarkan kalau saya salah). Bangsa ini harus menghadapi kenyataan bahwa Malaysia dan Singapura begitu gagah, mereka berani menunjukan kepada dunia siapa dirinya sementara bangsa ini hanya bisa menangis dan berteriak, “kembalikan pulau kami wahai Malaysia, kembalikan pasir kami wahai Singapura,” Sementara mereka tertawa terbahak sembari mencela: “KEMBALI KE LAPTOP!!!”

Ada sebuah kisah yang menarik ketika saya terlibat dalam sebuah diskusi lewat Chatting di internet dengan seorang teman yang berasal dari Malaysia. Ketika saya menanyakan kepadanya bagaimana pendapatnya mengenai kualitas Indonesia, dia hanya berkata, “Bukan saya mau men-judge negara Anda tetapi negara Anda adalah negara yang sangat bodoh dan kebodohan adalah awal dari kemiskinan. Ketika kami (Malaysia) sibuk belajar dan mempersiapkan diri, Anda tidur dan bermain gitar, ketika kami belajar untuk bekerjasama, Anda sibuk dalam pertengkaran. Ketika kami belajar untuk menjadi sebuah negara yang produktif, Anda malah sibuk menjadi negara yang konsumtif (pola hidup boros).
Ini adalah kesalahan Anda sendiri, maka HADAPI KENYATAAN. Yang terpenting bukanlah buruknya masa lalu Anda, tetapi yang terpenting adalah masa depan seperti apa yang Anda ingin ciptakan. Kalian kehilangan seorang figur pemimpin dimana generasi muda Anda belajar untuk mengikutinya. Bukan saja kaum mudanya yang gemar berpoya-poya bahkan para orang tua negeri kita yang saat ini menikmati kursi empuk wakil rakyat telah mewarnai negeri ini dengan sikapnya yang cukup ‘biadab’ mengkorupsi Anggaran.

Maka pada akhirnya, kita akan tersadar oleh sebuah kenyataan pahit bahwa kita telah memilih banyak sekali wakil rakyat yang bodoh. Mereka mengajukan Hak Interpelasi mengenai kasus Iran di Sidang DK PBB tetapi mereka seakan buta untuk membangun kesejahteraan rakyatnya sendiri. Mereka tidak pernah ribut mengenai implementasi UUD 45, bukan sekedar konteks, tetapi esensi. Mereka tidak sadar bahwa esensi UUD 45 telah hilang, pencorengan pasal 33 dan 34 adalah sebuah bukti yang nyata “Fakir-miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Tetapi pada kenyatannya. Mereka hanya peduli dengan kenaikan gajinya, tanpa mau peduli dengan rakyat yang memberikan mandat mereka untuk duduk di kursi legislative. Mereka seakan berbicara untuk wong cilik tapi mereka mengubur dalam-dalam apa itu kesejahteraan rakyat.

ORANG MISKIN DILARANG SAKIT.
ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH.
ORANG MISKIN DILARANG PUNYA RUMAH.
ORANG MISKIN DILARANG MATI.

Maka, hadapi saja ini sebagai sebuah kenyataan.

(by. Saripuddin)

h1

Artis intim dengan hewan..?

26 Februari 2009

Kehidupan homoseksual dan lesbi.
Homoseksualitas sendiri dalam tradisi kultural rakyat Indonesia sempat memperoleh hak hidup dengan terbuka. Beberapa tradisi muncul secara terbuka seperti Gemblak partner sex sang Warok dan candi Sukuh yang menggambarkan kebebasan seksual. Saat ini pun bersamaan dengan ruang demokrasi yang terbuka, beberapa kelompok LGBT pun bermunculan: seperti Arus Pelangi. Sebelumnya kita mengenal Gay Nusantara dengan tokohnya Dede Utomo. Individu-individu pun mulai semakin berani menyatakan secara terbuka bila orientasi seksnya lebih nyaman dan tak tersiksa sebagai lesbian atau homoseksual.
Bumi Hadiarti, misalnya, berani menyatakan dirinya seorang lesbian sejak kelas 2 SMU. Keberaniannya memang mengundang banyak tantangan dan hambatan, baik dari dirinya sendiri, keluarga, maupun masyarakat sekitarnya. Sabtu, 18 Maret 2006, Bumi Hadiarti yang masih berstatus mahasiswi HI–UNPAD tampil sebagai pembicara dalam kuliah umum yang diselenggarakan oleh salah satu unit kegiatan mahasiswa, Pusat Studi Ilmu Kemasyarakatan (PSIK) ITB dengan tema: “Dinamika Lesbian di Indonesia”. Tujuan kuliah umum itu sendiri adalah memberikan pembelajaran bahwa kaum homoseksual itu ada di tengah–tengah masyarakat kita. Pembelajaran ini diharapkan para peserta yang datang tidak menjadi homophobic (takut berlebihan pada homoseksual)

Bagaimana menurut penilaian Anda..??img_5035

h1

Halal : Ciuman ditempat umum???

26 Februari 2009

Mungkin diantara kita sudah sering mendengar tentang perjuangan beberapa tokoh umat Islam di Tangerang (melalui DPRD) yang secara bertahap dan implisit mencoba menerapkan nilai-nilai (syariat Islam) dalam PERDA-nya. Kaum Liberal dan Kristen dan dibantu media habis-habisan mencari kelemahan PERDA ini. Contohnya mereka mengexpose habis-habisan kekhilafan Satpol PP yang menangkap seorang ibu rumah tangga yang terkena jaringan razia pelacur. Dengan satu contoh kegagalan ini mereka ingin menekan Pemkot Tangerang untuk membatalkan PERDA ini. Usaha umat Islam Tangerang ini patut dapat pujian, tapi sedih juga mendengar bahwa sekarang mereka menjadi bulan-bulanan berbagai media massa di Amerika, Eropa, India, dll yang memberitakan bahwa di “Indonesia” boleh ciuman bibir di tempat umum asal tidak lebih dari 5 menit (judul headline berita di media massanya antara lain “Anda boleh berciuman di tempat umum di Indonesia asal tidak lebih dari 5 menit”) Saya belum tahu persis fakta yang terjadi, tapi berita ini sudah disebarluaskan kantor berita yang kredibiltas beritanya dianggap dapat diandalkan selama ini yaitu CNN, Reuters dan AP (silahkan click alamat berita di bawah ini). Saya yakin maksud Perda ini baik, yaitu tidak boleh ciuman bibir di tempat umum. Satu detikpun pantas dilarang ciuman bibir kalau di tempat umum. Bisa jadi ada tekanan dari para penolak, dan meminta Pemkot bisa membedakan antara ciuman suami istri dan ciuman nafsu lalu ada deal baru seperti ini. Mungkin juga ini pemutarbalikan fakta. Mungkin juga ini menjadi semacam teguran pada umat Islam yang lebih cerdas tapi tidak mau ikut turun mengurus akhlak umatnya sehingga ia turut menjadi bahan tertawaan orang-orang kafir.

Apa yang akan terjadi jika ciuman ditempat umum diperbolehkan di Indonesia….

Ciuman ditempat umum, bagaimana menurut Anda?

Ciuman ditempat umum, bagaimana menurut Anda?

??