“Hadapi Kenyataan!”

Menghadapi kenyataan, inilah yang seharusnya selalu ada dalam pikiran setiap insan manusia warga Republik ini. Dengan kondisi carut marut seperti ini Indonesia seakan tidak pernah bangun dari tidur panjangnya. kelaparan, banjir, kriminalitas tinggi, DBD, prostitusi dan korupsi adalah hal-hal yang biasa di Negeri ini. Tetapi yang menarik untuk saya adalah sebuah kenyataan bahwa warga negeri ini semakin menunjukan siapa dirinya. KAMI adalah orang yang tidak berbudaya. Bukan sekedar sebuah retori yang menggumam di kepala tetapi sebuah pemikiran yang seakan tidak pernah berhenti bertanya, apakah ada bangsa di dunia yang setiap harinya hanya mencela dan tertawa? Apakah ada bangsa di dunia yang melecehkan pemimpinnya sendiri? Bukannya mencari solusi bersama. Bangsa ini memang sudah kelewatan !!
Sementara bangsa lain sibuk dengan perkembangan teknologi informasinya, sibuk dengan penemuan barunya, sibuk dengan meningkatkan kekuatan untuk menjadi bangsa besar dan maju, bangsa ini hanya terus tertawa dan mencela. Bagaimana mungkin seorang Tukul dapat menjadi seorang yang dihargai masyarakat padahal hanya bisa tertawa dan mencela? Sedangkan anak bangsa yang memajukan bangsa ini lewat pendidikan tidak pernah mendapat perhatian? Bangsa ini sudah kelewatan.
Bangsa ini harus berani menghadapi sebuah kenyataan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang tertinggal. Kita adalah negara peringkat 54 dari 55 negara dalam tingkat kompetitif SDM (benarkan kalau saya salah). Bangsa ini harus menghadapi kenyataan bahwa Malaysia dan Singapura begitu gagah, mereka berani menunjukan kepada dunia siapa dirinya sementara bangsa ini hanya bisa menangis dan berteriak, “kembalikan pulau kami wahai Malaysia, kembalikan pasir kami wahai Singapura,” Sementara mereka tertawa terbahak sembari mencela: “KEMBALI KE LAPTOP!!!”
Ada sebuah kisah yang menarik ketika saya terlibat dalam sebuah diskusi lewat Chatting di internet dengan seorang teman yang berasal dari Malaysia. Ketika saya menanyakan kepadanya bagaimana pendapatnya mengenai kualitas Indonesia, dia hanya berkata, “Bukan saya mau men-judge negara Anda tetapi negara Anda adalah negara yang sangat bodoh dan kebodohan adalah awal dari kemiskinan. Ketika kami (Malaysia) sibuk belajar dan mempersiapkan diri, Anda tidur dan bermain gitar, ketika kami belajar untuk bekerjasama, Anda sibuk dalam pertengkaran. Ketika kami belajar untuk menjadi sebuah negara yang produktif, Anda malah sibuk menjadi negara yang konsumtif (pola hidup boros).
Ini adalah kesalahan Anda sendiri, maka HADAPI KENYATAAN. Yang terpenting bukanlah buruknya masa lalu Anda, tetapi yang terpenting adalah masa depan seperti apa yang Anda ingin ciptakan. Kalian kehilangan seorang figur pemimpin dimana generasi muda Anda belajar untuk mengikutinya. Bukan saja kaum mudanya yang gemar berpoya-poya bahkan para orang tua negeri kita yang saat ini menikmati kursi empuk wakil rakyat telah mewarnai negeri ini dengan sikapnya yang cukup ‘biadab’ mengkorupsi Anggaran.
Maka pada akhirnya, kita akan tersadar oleh sebuah kenyataan pahit bahwa kita telah memilih banyak sekali wakil rakyat yang bodoh. Mereka mengajukan Hak Interpelasi mengenai kasus Iran di Sidang DK PBB tetapi mereka seakan buta untuk membangun kesejahteraan rakyatnya sendiri. Mereka tidak pernah ribut mengenai implementasi UUD 45, bukan sekedar konteks, tetapi esensi. Mereka tidak sadar bahwa esensi UUD 45 telah hilang, pencorengan pasal 33 dan 34 adalah sebuah bukti yang nyata “Fakir-miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.” Tetapi pada kenyatannya. Mereka hanya peduli dengan kenaikan gajinya, tanpa mau peduli dengan rakyat yang memberikan mandat mereka untuk duduk di kursi legislative. Mereka seakan berbicara untuk wong cilik tapi mereka mengubur dalam-dalam apa itu kesejahteraan rakyat.
ORANG MISKIN DILARANG SAKIT.
ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH.
ORANG MISKIN DILARANG PUNYA RUMAH.
ORANG MISKIN DILARANG MATI.
Maka, hadapi saja ini sebagai sebuah kenyataan.
(by. Saripuddin)