
‘PEJABAT PEMAKAN DARAH’
1 Maret 2009
Masyarakat diminta hati-hati terhadap Pejabat yang mempunyai kriteria seperti ini.
MUSIM caleg (calon legislatif) telah tiba. Hari-hari dan minggu-minggu dalam bulan Agustus-September ini, akan diramaikan oleh bursa para calon politisi yang mengincar kursi legislatif dalam Pemilu 2009 yang sudah mulai berjalan tahapannya. Baik kursi DPR (pusat), DPRD provinsi, maupun DPRD kota/kabupaten. Begitu juga DPD (Dewan Perwakilan Daerah) alias ‘senator’ yang telah pula ‘tebar pesona’ mencari dukungan sebanyak-banyaknya guna persyaratan pencalonan mereka. Seperti biasa, dalam irama lima tahunan, jelang pemilu seperti ini akan banyak orang bermuka manis kepada rakyat, kepada kita semua. Bagaimana tidak bermuka manis, para caleg tersebut sangat membutuhkan bahkan sangat bergantung nasibnya dari kita semua. Dan rakyat pun jadi tuan, tapi sayang, itu tak bertahan lama. Seperti biasa pula, setelah para caleg berhasil duduk di kursi parlemen, mereka banyak yang lupa pada ‘tuannya.’ Sebab, saat itu mereka telah berganti ‘tuan,’ apakah yang namanya kekuasaan, kepentingan, uang, jabatan, dan simbol-simbol lain yang memang memabukkan. Sebentar lagi para caleg dari parpol yang kini jumlahnya lebih banyak itu (34 parpol), akan resmi mendaftarkan diri ke KPU atau KPUD, untuk selajutnya mengikuti proses pemilihan umum yang, seperti biasa, bakal menguras energi dan perhatian segenap bangsa ini. Kini para caleg (atau tepatnya bacaleg) tersebut sedang ribut-ribut mencari nomor urut yang menguntungkan. Tak jarang mereka harus menyerang dan melakukan pembunuhan karakter terhadap kawan sendiri demi mendapatkan nomor jadi. Itu baru tahap penyusunan nomor urut yang sifatnya masih internal parpol. Belum kalau daftar nama-nama caleg tersebut sudah ditetapkan dan dilempar (dijual) ke publik. Maka, rebutan pengaruh pun makin keras. Aroma saling serang dan saling jegal begitu kuat. Tak jarang aib dan kelemahan-kelemahan pribadi orang diobral dan dibeber luas. Seperti biasa pula, kalau musim caleg telah tiba, bakal beredar janji-janji manis kepada rakyat atau kita semua yang terdengar begitu meninabobokan. Dan, sudah bisa ditebak, dunia pendidikan bakal jadi isu yang sangat laku karena dianggap bernilai jual tinggi. Begitulah, janji-janji tentang pendidikan gratis, berkualitas, fasilitas sangat ideal, lulusannya dijamin mendapat pekerjaan dan hidup sejahtera, para guru kesejahteraannya bakal ditingkatkan berlipat-lipat, anggaran pendidikan ditingkatkan setinggi-tingginya, akan kita dengar lagi di hari-hari, minggu-minggu, dan bulan-bulan ini. Terutama saat kampanye nanti, dimana isu pendidikan begitu laris diangkat para caleg dan parpol. Kita yang sehari-hari berkecimpung di dunia pendidikan, akan selalu kritis terhadap hal-hal tersebut. Tentunya, tanpa harus bersikap antipati. Bukankah begitu?
Seorang manusia yang terlahir dari sebuah keluarga kurang mampu yang jauh dari kehidupan kota, yang kemudian mencoba bertahan hidup diantar hantaman rintangan dan cobaan.
Contact email : propokator@gmail.com
email : propokator@gmail.com