h1

Kampus biru

Ketika Soe Hok Gie berbicara

Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan
yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan
yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu.
Bahagialah mereka yang mati muda.

– Soe Hok Gie: 22 Januari 1962 –

Berbicara tentang Soe Hok Gie, berbicara sebuah nama yang sulit dihapus dari ingatan saya. Lewat Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran yang saya baca lewat sebuah buku, ia begitu saja mempengaruhi proses pembentukan sikap pribadi saya sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Subang. Ia, pertama-tama dan terutama, membangkitkan kegelisahan dalam diri saya. Saya dibuatnya gelisah karena secara mendadak menyadari betapa bodohnya saya di bandingkan seorang Soe Hok Gie. Ia dengan fasih berbicara mengenai hal-hal yang masing terasa asing buat saya. Ia dengan mudah mengutip nama-nama pemikir besar yang tak saya kenal sama sekali. Jadi, bagaimana mungkin seorang mahasiswa dari sebuah kampus yang cukup bagus (katanya), ternyata memiliki pengetahuan yang jauh lebih sedikit ketimbang seorang mahasiswa tahun 1960-an? Siapa itu Pasternak, Shokolov, Bernard Shaw, Dostoyevsky, Jan Romein, Marx, Childe, J. Benda, dan sebagainya itu?
Bukan hanya disadarkan dari kebodohan, Catatan Seorang Demonstran juga menggugah minat saya terhadap masa depan negeri ini. Sekonyong-konyong saya merasa ikut bertanggung jawab atas masa depan Indonesia. Saya merasa terpanggil dan harus melakukan sesuatu untuk menunaikan tugas saya sebagai mahasiswa Indonesia, kaum terpelajar yang disubsidi rakyat banyak sehingga cuma membayar uang kuliah Rp 18.000 — Rp 40.000 per semester. Saya merasa tidak nyaman lagi hanya duduk-duduk manis di ruang-ruang kuliah mendengarkan para dosen yang sok pintar mengoceh sesukanya [hanya segelintir dosen yang benar-benar pintar]. Bahkan saya merasa makin tidak cocok dengan sistem perkuliahan yang [saya rasa] menindas akal sehat dan hanya akan melahirkan generasi beo. Bayangkan saja, bagaimana para mahasiswa sebuah fakultas hukum tidak memiliki kelompok studi hukum, tidak punya forum diskusi reguler, tidak ada latihan berdebat dengan santun, tidak mampu merespons kasus-kasus yang sedang aktual di masyarakat, tidak bisa membuat makalah ilmiah dan sejenisnya?
Terinspirasi oleh catatan-catatan Soe Hok Gie, saya kemudian mulai melibatkan diri dalam berbagai aktivitas Mahasiswa, ikut hadir dalam diskusi-diskusi bersama tokoh-tokoh. Dan untuk bisa hadir dalam pertemuan-pertemuan yang mengasah sikap kritis terhadap regim Birokrasi “Bokbrok” itu, saya bahkan sering memilih membolos kuliah atau ujian di kampus. Jadi, sampai derajat tertentu Soe Hok Gie ikut ”bertanggung jawab” atas kebiasaan saya membolos kuliah dan ujian di kampus. Ia menularkan semacam ”virus” untuk berani memberontak terhadap sistem yang mapan, sistem yang melecehkan kemanusiaan.
”Virus” yang ditularkan oleh dari catatan Soe Hok Gie memperkuat ”virus” yang telah lebih dulu ditularkan Ahmad Wahib kepada saya. Lewat catatan harian yang diberi tajuk Pergolakan Pemikiran Islam [LP3ES, 1981], Wahib telah mempertontonkan kepada saya sosok ideal mahasiswa yang pantas di sebut sebagai intelektual muda dalam artinya yang sejati. Kejujuran dan komitmennya kepada kebenaran sungguh mempesona hati saya. Dan entah bagaimana, meski mereka dua pribadi yang sangat berbeda satu sama lain, namun keduanya memiliki sejumlah persamaan yang agak mengherankan. Mereka sama-sama lahir di tahun 1942, sama-sama aktivis mahasiswa meski beda kampus, sama-sama pemikir, sama-sama pencinta kebenaran yang luar biasa, sama-sama berpihak pada kaum lemah, sama-sama suka menulis catatan harian yang membahas persoalan-persoalan politik kontemporer, agama, dan filsafat. Mereka juga sama-sama wafat dalam usia muda, dua-duanya karena kecelakaan. Wahib yang datang dari lingkungan pedesaan Sampang, Madura, menjadi korban tabrak lari di kota metropolitan Jakarta. Sementara Soe Hok Gie yang orang Jakarta, meregang nyawa di kawah Mahameru, Gunung Semeru. Wahib berangkat dari alam pikiran yang religius, sementara Hok Gie terkesan sangat sekuler pemikirannya. Keduanya berbeda, tapi ada persamaannya. Seolah-olah saling melengkapi.
Dimata saya, baik Soe Hok Gie maupun Ahmad Wahib adalah prototipe dari apa yang saya sebut ”manusia pembelajar” yang berhasil melewati tahap ”manusia pemimpin” dan kemudian sampai menjadi ”manusia guru” [Harefa: Menjadi Manusia Pembelajar, Kompas, 2000, hal. 199-215]. Artinya, mereka adalah orang-orang yang melakukan pekerjaan dan menerima tugas dan tanggung jawab tertentu yang terutama berkaitan dengan kepentingan suatu masyarakat bangsa dan kemanusiaan universal. Mereka melepaskan kepentingan-kepentingan pribadi, kelompok, dan organisasi primordialnya untuk mengabdi dalam kancah perjuangan kepentingan sebuah negara kebangsaan dan bahkan kemanusiaan universal. Mereka melandasi perjuangannya dengan semangat anti-kekerasan karena pada dasarnya mereka mencintai perdamaian. Mereka mendemonstrasikan integritas dan moralitas yang bersumber pada hati nuraninya, dan rela mengorbankan dirinya untuk mempertahankan hal itu. Mereka memfokuskan perhatian mereka terutama kepada kebenaran, keadilan, dan cinta kasih. Mereka terlibat dalam proses penciptaan komunitas masyarakat bangsa yang memperlakukan dan diperlakukan semanusiawi mungkin. Mereka menabur tanpa henti benih-benih kehidupan masyarakat bangsa dan umat manusia untuk masa yang akan datang. Mereka, dalam pandangan saya, pantas disebut sebagai Guru Bangsa.
Karena kita telah memiliki prototipe manusia guru yang relatif ideal, maka saya kira kita berhak untuk berharap bahwa akan lahir lagi sebuah generasi baru, generasi pengganti, generasi kreatif, generasi yang terinspirasi oleh hidup dan karya orang-orang sekaliber Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie. Demikianlah semoga!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.